RESUME “AKSI MASSA” TAN MALAKA

1. TENTANG REVOLUSI.

Dalam memandang revolusi, Tan malaka sangat dipengaruhi oleh pikiran Marx. Revolusi adalah akibat tertentu dan tak dapat disingkirkan dari timbulnya pertentangan kelas yang semakin hari semakin tajam. Bahwa revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan, bukan lahir  atas perintah seseorang yang sangat luar biasa. Seorang stimulator hanya dapat membangun revolusi, mempercepat atau memimpin menuju kemenangan dan bukan menciptakan. Baca tulisan ini lebih lanjut

Revolusi Tiongkok

Sejarah singkat Revolusi Tiongkok

Mao Tje Tung telah melukiskan kedejarahan yang begitu spektakuler di Tiongkok , Mao Tje Tung berhasil memimpin gerakan rakyat dan menyusun Front Persatuan Demokrasi Rakyat, yang akhirnya ternyata berhasil menggulingkan kekuasaan Diktatur Kuomintang, yang ternyata korup dan tidak mampu mempertahankan diri biarpun mendapat sokongan besar berupa uang dan  alat-alat dari Amerika Serikat. Politik Amerika Serikat di Tiongkok membuat sebagian kebijakan politiknya di Timur jauh telah mengalami kegagalan dengan terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok dan berhasilnya Republik Rakyat tersebut mengkonsolidasikan kedudukannya secara cepat diseluruh dataran Tiongkok.

Tiongkok menjadi berbentuk menjadi negara Republik sesudah Revolusi dikota Wuchang telah berhasil, yaitu pada tanggal 10-10-1911. Republik Tiongkok diproklamasikan pada tanggal 1-1-1912. Dr SunYat Sen menjadi Presiden pertama dari Republik Tiongkok.

Tetapi untuk menjamin persatuan didalam negeri dan untuk mendapat sympati yang lebih besar lagi dari negara-negara besar ( Amerika, Inggris, dll ), maka Dr Sun Yat Sen menyerahkan kedudukan presiden pada Yuan Shih Kai, yang menjadi orang kepercayaan dan orang yang paling disenangi oleh negara-negara besar, karena jasanya pada Pemberontakan Boxer  di Peking pada tahun 1901. Dalam pemberontakan ini Yuan Shih Kai dikenal sebagai orang yang Pro negara Barat. Ternyata Yuan Shih Kai bermimpi untukmenjadikan dirinya Kaisar atas nasihat dari orang Amerika, ia hendak merobah bentuk Republik menjadi Kerajaan. Peristiwa ini memaksa Dr Sun Yat Sen menyusun kekuatan rakyat di Tiongkok Selatan dengan Kanton sebagai pusatnya.

1924 di Kanton Dr Sun Yat Sen memimpin konggres Kuomintang yang terpenting dan juga turut dihadiri oleh Partai Komunis Tiongkok untuk menentukan sikap bersama dan menyusun satu Front nasional. Sebagai akibat dari konggres ini Tentara expedisi ke utara, yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek, sedangkan Chou En Lai dan Mao Tje Tung mendapat kewajiban untuk mengorganisir Kaum Buruh dan Kaum Tani didaerah-daerah yang akan dilewati oleh Tentara expedisi itu. Karena disokong oleh gerakan rakyat, maka Tentara expedisi itu telah mendapat hasil yang memuaskan dan berhasil menaklukan semua panglima-panglima peran ( WarLord ) di utara dan mempersatukan Tiongkok.

Tetapi ketika Shanghai dan Peking dapat dikuasai oleh Tentara expedisi, maka timbul-lah perpecahan hebat dan perang saudara hebat dimulai, karena Chiang Kai Shek mengambil tindakan yang sangat kejam terhadap orang-orang yang tidak menyetujui garis politiknya yang mau mengadakan Kompromi dengan Modal Besar dan Kaum Modal Raksasa asing.

1927-1937 Perang saudara pertama yang hebat dan melahirkan Tentara Merah, yang pada tahun 1937 dirubah namanya menjadi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Chiang Kai Shek dibantu oleh penasihat militer Jerman tidak mampu menindas Tentara Merah Tiongkok yang setiap harinya berjumlah semakin besar dan lebih kuat karena mendapat sokongan dan simpati dari rakyat, walaupun Chiang Kai Shek telah membunuh para pemimpin rakyat yang ditangkap dan berjuta-juta rakyat biasa. Sementara itu negara-negara besar mempunyai kepentingan besar di Tiongkok telah memberi dukungan pada Chiang Kai Sek tetapi dukungan ini hanya cukup untuk mencegah Chiang Kai Shek ambruk karena oposisi rakyat, tetapi tidak cukup besar untuk mengusir serbuan tentara asing, yang menjadi kawan sekutu negara-negara besar itu. Kekuatan yang demikian besarnya itu apabila dimiliki oleh Chiang Kai Shek dianggap dapat merupakan “bahaya” bagi kepentingan-kepentingan negara-negara besar asing itu sendiri, yang menganggap Chiang Kai Shek selalu membutuhkan ! “bantuan” dari mereka.

Akibatnya Jepang mulai memasuki wilayah dataran Tiongkok.

1931     Jepang menyerbu masuk di Manchuria.

1932     Jepang mendirikan pemarintahan boneka Manchukuo.

1933     Provinsi Jchol juga diserbu oleh Jepang.

1935   Tentara Jepang menyerbu masuk didaerah belakang Tembok Besar ( Great Wall )

1936   Chiang Kai Shek diculik oleh Gen. Chang Hsueh Liang dan dengan pertolongan Chou En Lai. Chiang tidak sampai dibunuh dan Chiang menyataka bersedia membentuk Front nasional melawan Jepang.

1937    Tanggal 7 juli insiden di Lukuchiao ( Marcopollo Bridge ) yang menimbulkan perang Tiongkok—Jepang.

Akhir tahun 1937 Jepang menduduki Peiping dan lalu membentuk adanya “pemerintahan Sementara” dari Republik Tiongkok, yaitu satu Pemerintahan boneka.

1938   Sesudah merebut Shanghai dan Nanking, Jepang lalu mendirikan “Pemerintahan Boneka Tiongkok” yang dipimpin oleh Wang Ching Wei.

Pada tanggal 5 Agustus 1945 jepang menyerah kalah dan Tiongkok mendapat kembali seluruh wilayahnya berikut juga pulau Formosa. Tiongkok menjadi salah satu negara besar “One Of The Big Five” dan menjadi salah satu anggota Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan: Uni Sovyet, Cina, Amerika, Inggris, Perancis yang semuanya mempunyai hak veto. Dengan kedudukan yang baru ini, maka semua negeri besar yang tadinya mempunyai hak-hak istimewa di Tiongkok, yaitu “Hak Exterritorialities”, lalu menghapuskan hak-hak ini.

1944-1946 Timbul lagi Perang Saudara di Tiongkok, Amerika mencoba mendamaikan

1946    Pada bulan januari kedua belah pihak telah berhasil menimbulkan  adanya persetujuan untuk menghentikan segala permusuhan.Tetapi Chiang Kai Sek ternyata melanggar persetujuan ini.

1947      Timbul Perang Saudara hebat kedua kalinya dengan kesudahan Kuomintang digulingkan diseluruh Tiongkok.

1949     Tanggal 1 Oktober di Proklamirkan Republik Rakyat Tiongkok.

Pokok Pemikiran Mao Tje Tung Tentang Revolusi

Analisis Kelas Dalam Masyarakat Tiongkok

Analis kelas dalam praktek revolusi merupakan hal cukup penting pada dasarnya analisis kelas merupakan sebuah metode untuk memisahkan sipakah lawan dan kawan, Untuk membedakan sahabat yang sesungguhnya dan musuh yang sesungguhnya, tidak boleh tidak harus kita analisa secara umum kedudukan ekonomi klas-klas dalam masyarakat Tiongkok serta sikapnya masing-masing terhadap revolusi.

Keadaan kelas Tiongkok

Klas tuantanah dan klas komprador. Di Tiongkok setengah jajahan yang terbelakang ekonominya, klas tuantanah dan klas kompradorsama sekali merupakan embel-embel burjuasi internasional, yang hidup dan berkembangnya tergantung kepada imperialisme. Klas-klas ini mewakili hubungan-hubungan produksi yang paling terbelakang dan paling reaksioner di Tiongkok dan menghambat perkembangan tenaga produktif Tiongkok. Mereka berlawanan sama sekali dengan tujuan revolusi

Burjuasi sedang. Klas ini mewakili hubungan-hubungan produksi kapitalis di kota dan di desa Tiongkok. Yang dimaksudkan dengan burjuasi sedang itu terutama ialah burjuasi nasional yang bertentangan sikapnya  terhadap revolusi Tiongkok: mereka memerlukan revolusi dan menyetujui gerakan revolusioner melawan imperialisme dan rajaperang apabila mereka menderita karena pukulan modal asing dan tindasan rajaperang; tetapi mereka mencurigai revolusi apabila mereka merasa perkembangan klasnya  untuk mencapai kedudukan burjuasi besar terancam oleh revolusi yang diikutsertai proletariat Tiongkok secara militan  di  dalam negeri dan disokong aktif oleh proletariat internasional di luar negeri. Gagasan politik mereka ialah membentuk suatu negara  yang dikuasai oleh satu klas saja, yaitu burjuasi nasional

Burjuasi kecil. Yang termasuk kategori ini ialah tani pemilik , pengusaha kerajinan tangan, intelektuil lapisan bawah – pelajar dan mahasiswa, guru sekolah menengah dan sekolah dasar, pegawai negeri rendahan, kerani dan pengacara kecil – pedagang kecil dan sebagainya. Baik ditinjau dari jumlahnya maupun dari watak klasnya, klas ini patut mendapat perhatian yang sangat besar.

Semi-proletariat. Yang dinamakan semi-proletariat di sini meliputi lima golongan: (1)sebagian besar dari tani setengah-pemilik  , (2) tanimiskin, (3) tukang kerajinan tangan kecil, (4) pegawai toko-toko  , dan (5) penjaja.

Proletariat. Proletariat industri modern terdiri dari kira-kira dua juta orang. Berhubung dengan keterbelakangnya  ekonomi Tiongkok, maka kaum proletar industri modern tidak banyak jumlahnya. Buruh industri yang lebihkurang dua juta itu terutama ialah buruh dari lima macam industri, yaitu keretaapi, pertambangan, pengangkutan laut, tekstik dan pembuatan kapal; dan sejumlah yang sangat besar di anataranya diperbudak dalam perusahaan modal asing. Meskipun tidak banyak jumlahnya, proletariat industri mewakili tenaga produktif yang baru di Tiongkok, merupakan klas yang paling progresif di Tiongkok modern dan menjadi kekuatan memimpin  dalam gerakan revolusioner.

Kaum proletar-gelandangan yang tidak kecil jumlahnya, terdiri dari kaum tani yang kehilangan kesempatan bekerja. Mereka itu paling terombang-ambing penghidupannya di antara manusia. Mereka mempunyai perkumpulan rahasia di mana-mana

Dari uraian di atas dapatlah diketahui bahwa semua yang bersengkongkol  dengan imperialisme – rajaperang, birokrat, klas komprador, klas tuantanah besar dan bagi kaum intelektuil yang reaksioner yang bergantung pada mereka – adalah musuh kita. Proletariat industri adalah kekuatan memimpin dalam revolusi kita. Seluruh semi-proletariat dan burjuasi kecil adalah sahabat kita yang terdekat. Adapun burjuasi sedang yang bimbang itu, sayap kanannya mungkin menjadi musuh kita, sayap kirinya mungkin menjadi sahabat kita – tetapi kita harus selalu berjaga-jaga  jangan sampai mereka mengacaukan front kita

Tentang Revolusi Tiongkok

Kondisi Internal Tiongkok

Rejim raja perang-raja perang baru Kuomintang yang sekarang ini masih tetap merupakan rejim klas komperador di kota-kota klas gembong lalim setempat dan ningrat jahat di desa-desa, suatu rejim yang keluar menyerah kepada imperialisme dan ke dalam mengganti rajaperang-rajaperang lama dengan rajaperang-rajaperang baru, serta melakukan penghisapan ekonomi dan penindasan politik yang lebih kejam  lagi daripada yang sudah-sudah terhadap klas buruh dan klas tani

Tiongkok merupakan negeri setengah jajahan yang terbelakang ekonominya dan yang tidak langsung berada di bawah kekuasaan imperialis. Karena gejala aneh itu hanya bisa terjadi bersama-sama dengan gejala aneh lainnya, yaitu peperangan di kalangan rejim putih. Adalah salah satu ciri Tiongkok  setengah jajahan, bahwa sejak tahun pertama Republik (1912), berbagai klik rajaperang  lama dan baru yang disokong oleh imperialisme serta klas komprador dan klas gembong lalim setempat dan  ningrat jahat dalam negeri terus menerus melakukan perang antara satu dengan lainnya. Gejala demikian itu tidak terdapat di negeri imperialis manapun di seluruh dunia ini dan bahkan juga tidak terdapat  di tanah jajahan manapun yang langsung di bawah kekuasaan imperialis, tetapi hanya terdapat di negeri seperti di Tiongkok yang tidak langsung di bawah kekuasaan imperialis. Gejala itu timbul karena dua sebab, yaitu ekonomi pertanian local (bukan ekonomi kapitalis yang di satukan) dan politik pemecah belahan dan penghisapan imperialis yang membagi-bagi Tiongkok menjadi lingkungan pengaruh mereka masing-masing. Perpecahan dan peperangan dalam waktu yang lama di kalangan rejim putih itu telah memberikan syarat bagi lahirnya dan dipertahankannya satu atau beberapa daerah Merah kecil di bawah pimpinan Partai Komunis di tengah-tengah kepungan rejim putih.

Menurut petunjuk-petunjuk dari Internasionale Komunis dan Comite Central Partai , isi revolusi demokratis  Tiongkok ialah menggulingkan kekuasaan imperialisme beserta alat-alatnya, yaitu rajaperang-rajaperang, di Tiongkok, untuk menyelesaikan revolusi nasional, melaksanakan revolusi agraria untuk menghapuskan penghisapan feodal atas kaum tani aoleh klas tuantanah.

Permasalahan dalam Revolusi

Permasahan pertama Memenuhi Kebutuhan massa

Tugas inti dalam pelaksanaan revolusi ialah memobilisasi massa luas agar mereka turut serta dalam perang revolusioner untuk merobohkan imperialis dan Kuomintang (KMT),  memperluas revolusi keseluruh negeri dan mengusir imperialis keluar dari Tiongkokbagaimanapun juga revolusi harus diperluas sampai keseluruh negeri, maka sedikitpun kita tidak harus mengabaikan dan memandang rendah terhadap Masalah kepentingan massa luas yang langsung mengenai dirinja dan Masalah penghidupan massa. Karena perang revolusioner adalah perang massa, maka hanja dengan jalan memobilisasi massa dan hanya dengan menyandarkan diri kepada massa, barulah perang itu dapat dijalankan.

Dan dalam memobilisasi rakyat untuk menjalankan perang, tetapi sedikitpun tidak menjalankan pekerjaan lain, dapatkah kita mencapai tujuan untuk mengalahkan musuh ? Tentu saja tidak. Jika kita ingin mencapai kemenangan, kita harus bekerja lebih banyak lagi. Misalnya: memimpin tani dalam perjuangan agraria dan membagikan tanah kepada mereka; mempertinggi semangat tani dalam kerja, agar dapat memperlipatgandakan produksi pertanian; menjamin kepentingan buruh; mendirikan koperasi; memperkembangkan perniagaan dengan luar daerah; memecahkan soal-soal pakaian, makanan, perumahan, keperluan sehari-hari seperti kayu api, beras, minyak dan garam, serta soal kesehatan dan perkawinan dari massa. Dengan singkat, kita harus memperhatikan semua masalah penghidupan massa sehari2. Apabila kita memperhatikan masalah-masalah tersebut dan memecahkannja serta memenuhi keperluan2 massa, maka kita akan sungguh-sungguh menjadi organisator penghidupan massa, dan massa akan sungguh-sungguh berpusat disekitar kita dan dengan hangat menyokong kerja tercapainya revolusi

Semua masalah penghidupan massa ini harus dimasukkan dalam agenda revolusi, dengan harus mengadakan diskusi, mengambil keputusan, mendjulankannja dan memeriksanja.dan juga harus bertindak agar massa mengerti, bahwa revolusi mewakili kepentingan mereka, dan kepentingan revolusi adalah erat berhubungan dengan kepentingan mereka. Dengan demikian, supaya berdasarkan atas hal-hal ini, mereka mengerti tugas yang lebih tinggi yang kita ajukan ialah tugas perang revolusioner, agar mereka menyokong revolusi, memperluas revolusi keseluruh negeri, menerima seruan politik kita dan berjuang sampai akhir untuk kemenangan revolusi.

Masalah yang kedua ialah masalah mengenai cara bekerja.

Kaum revolusioner merupakan pemimpin dan organisator perang revolusioner, juga adalah pemimpin dan organisator penghidupan massa. Mengorganisasi perang revolusioner dan memperbaiki penghidupan massa adalah dua tugas kita yang besar. Tentang masalah cara bekerja disini dengan genting sekali terbentang dihadapan kita. Bukan saja kita harus mengemukakan tugas, tetapi kita juga harus memecahkan cara mewudjudkan tugas itu

LENIN DAN SEJARAH PERJUANGANNYA

Oleh : Tarmulo[1]

Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin lahir pada 10 april 1870 menurut kalender lama rusia atau 22 april 1870 menurut kalender modern di simbirsk atau yang kemudian berubah nama menjadi Ulyanovski di wilayah Olga. Dia adalah anak ketiga dari seorang guru admiinistrator sekolah yang telah mencapai derajat terhormat dalam kehidupan sosial masyarakat Rusia pada saat itu. Pada masa-masa kecil dan remaja, sulit menemukan sesuatu hal yang bisa mengubahnya menjadi seorang revolusioner. Keluarganya keluarga yang bahagia, terhormat, dan terpelajar. Lenin sendiri dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cinta dan kasih sayang. Dalam kehidupan keluarga yang demikian, lenin muda tumbuh sebagai seorang pelajar yang cerdas dan teliti. Sebagai seorang yang kerap membaca, lenin akrab dengan penulis besar Rusia seperti Pushkin, Turgenev, Tolstoy maupun Nekrasov. Dia juga mengenal karya-karya pemilir proto-revolusioner rusia seperti Belinskii, herzen, chernyshevskii, Pisarev dan Dobroliubov.

Lenin tidak hanya berhasil menerapkan dan merealisasikan pikiran-pikiran Marx dalam kenyataan, namun lenin juga mampu melahirkan isme atau ideologi baru. Lahirnya ideologi tersebut dapat dilihat beberapa aspek yana mempengaruhi pemikiran Lenin.

  1. Karl Marx

Secara umum, Marx sebenarnya tak dapat dipisahkan dari tokoh filsafat yang dikaguminya yaitu Hegel. Marx kagum dengan gagasan bahwa sejarah umat manusia bersifat evolutif menuju tahap yang semakin tinggi. Menurut Hegel, proses kenaikan tersebut tidak berlangsung melalui dan dalam proses yang linear namun dalam proses yang dialektik, yaitu proses pertarungan antara tesis dan antitesis yang kemudian melahirkan sintesis.

Jadi menurut Hegel, gerak sejarah itu bersifat teleologis (memiliki sebuah tujuan). Namun, jika menurut Hegel tujuan sejarah adalah perwujudan roh absolut berbeda halnya dengan Marx. Jika menurut Marx tujuan sejarah adalah masyarakat tanpa kelas.

Gagasan Marx mengenai konsep masyarakat tanpa kelas lahir sebagai tintak lanjut dari pemahaman terhadap Hegel mengenai pekerjaan sebagai medium pembentukan diri manusia. Maka menurut Marx dalam masyarakat tanpa kelas itulah manusia bisa bekerja “memanusiakan alam yang objektif” sebagai cara bebas tanpa keterpaksaan.

  1. Plekhanov

Tokoh ini dikenal sebagai grandfather of Rusia of Marxism. Dia yang telah membumikan Marxism di Rusia. Pada tahun 1883 bersama para sahabat Plekhanov mendirikan organisasi Marxism pertama di Rusia yaitu Pembebasan Buruh (Liberation of labour) di Jenewa. Pada tahun yang sama, Plekhanov menerbitikan bukunya sosialism dan perjuangan politik (socialism and political struggle), kemudian pada tahun 1885 perbedaan-perbedaan kita (our differences). Dalam kedua karya tersebut, dia mengkritik kaum poulis dan sekaligus memberikan basis ideologis bagi kaum marxis Rusia.

Menurut Plekhanov , Rusia pada saat itu telah memasuki fase kapitalism yang mengubah struktur sosial masyarakat. Berbeda dengan kaum kaum populis yang meletakkan harapan revolusinya pada kaum tani, namun Plekhanov  meletakkan harapan revolusinya pada kaum proletar yang terbentuk akibat masuknya kapitalism. Merekalah yang akan melakukan revolusi sosialism,kata Plekhanov.

  1. Kaum populis

Kaum populis merupakan bagian dari gerakan sosialis abad ke-19 di Rusia. Terdiri dari kaum intelektual Rusia yang percaya bahwa rusia akan mampu mencapai tahap kemajuan tanpa harus melewati tahap kapitalism. Berbeda dengan kaum marxis mendasarkan pada masyarakat proletar sementara kaum populis masyarakatnya adalah agraria. Hal ini didasarkan pada realitas mayoritas Rusia adalah petani.

Akhir tahun 1860 dan awal 1870 kaum populis melancarkan kampanye “turun ke rakyat”. Ratusan intelektual muda berpakaian seperti petani turun ke desa-desa, tiggal disana dan mengajarkan perjuangan menciptakan revolusi guna mencapai komunis agraria. Akan tetapi, usaha tersebut sia-sia karena para petani agraria tidak terlalu merespon propaganda tersebut karena buta huruf.

Kegagalan tersebut membawa kaum populis melancarkan program yang lebih radikal damn juga metode pengorganisiran yang lebih ketat. Kaum populis tersebut membentuk organisasi kelompok revolusioner Zemlya i Volya (tanah dan kebebasan), selain itu mereka juga melakukan propaganda secara lisan dan juga lewat aksi.

Pokok-pokok pemikiran Lenin

  1. I.            Kepercayaan atas hukum evolusi secarah umat manusia

Rusia pada saat itu tengah berada di tengah kepemimpinan Tsar (Feodalism), L berpandangan bahwa Rusia pada saat itu telah memasuki fase kapitalism walau perkembangan industri masih sangat lambat dan jumlah buruh masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Rusia. Tetapi hal tersebut tak terbantahkan keberadaan kapitalisme telah ada di Rusia yang mulai memperlihatkan perwujudan diri sekaligus eranya yaitu pembentukan kelas buruh.

Di satu sisi Lenin sepakat dengan Plekhanov tentang masuknya fase kapitalisme di Rusia namun di sisi lain Lenin menolak pandangan Plekhanov tentang dua fase revolusi menuju masyarakat sosialism. Jika Plekhanov menyatakan bahwa untuk menuju tercapainya masyarakat sosialis maka kaum proletar harus membantu kaum borjuis-kapitalis mengadakan revolusi menyatukan kekuasaan feodal dan menggantikannya dengan rezim kapitalism. Di dawah rezim ini, kapitalism akan berkembang dan dengan demikian berkembang pula jumlah dan kekuatan kaum proletar. Dengan kekuatan tersebut, kaum proletar akan sanggup melakukan revolusi sosialis.

Lenin membantah dua fase tersebut karena baginya kamu borjuis-kapitalis tak bisa dipercaya untuk membuka jalan terbentuknya revolusi sosial dan masyarakat sosial. Lenin berpandangan untuk menciptakan revolusi tersebut harus menyatukan proletar Rusia untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

  1. II.            Kaum proletar-petani kecil sebagai pilar revolusi sosialis

Dalam manifestasi komunis, Marx menyatakan (kelas menengah kecil termasuk petani)  tidaklah revolusioner namun konservatif.pernyataak tersebut dengan tegas menunjukkan bahwa Marx tidak mengganggap petani sebagaikekuatan revolusioner tetapi sebagai kekuatan konservatif bahkan reaksioner. Tetapi Lenin memiliki pemikiran lain, berdasarkan pada realitas yang sedang terjadi kekuatan kaum proletar terlalu kecil untuk sanggup mengadakan revolusi sosialis. Selain itu, pandangan yang menyatakan bahwa kaum borjuis-kapitalis yang memiliki kekuatan untuk melakukan revolusi menjungkirkan feodalism, tak bisa dipercaya sepenuhnya untuk memberi ajaln bagi revolusi sosialism.

Secara inofatif, Lenin menemukan kekuatan baru tersebut dalam kaum petani kecil. Untuk mengakhiri tahap borjuis dari sejatah rusia haruslah menggantikan dengan rezim baru yaitu kediktatoran demokratik kaum proletar dan tani.

  1. III.            Tugas partai dan sifat kepemimpinannya

Dalam manifesto komunis, Marx menyebutkan bahwa partai komunis hanya sebagai koordinator gerakan-gerakan kaum buruh di seluruh dunia. Lenin menolak pemikiran Marx tersebut. Baginya partai komunis memiliki fungsi yang vital daripada sekedar mengkoordinasikan gerakan-gerakan buruh di seluruh dunia. Tugas itu adalah menyuntikkan kesadaran sosial pada diri kaum buruh, dan sekaligus menjadi mentor, pemimpin dan pemandu bagi kaum proletar dalam melaksanakan revolusi sosialnya. Lenin secara realistis melihat bahwa perkembangan kapitalism hanya sekedar melahirkan “kesadaran serikat buruh” bukan “kesadaran sosialis”.

Singkatnya kepemimpinan sejumlah kecil revolusioner profesional tidak berarti masa buruh (dan juag prtani) yang besar lantas bersikap pasif. Justru merupakan sekelompok kecil revolusioner profesional itu untuk menjadi guru bagi masa.

  1. IV.            Revolusi permanen

Lenin merupakan seorang yang senantiasa melihat setiap problem dari persfektif global. Baginya dunia ini merupakan satu sistem dan karena iitu pembacaan atas setiap fenomena haruslah memperhitungkan konteks global. Juga ketika berbicara tentang revolusi sosialis, dia berbicara dalam perspektif global. Lenin menyatakan bahwa revolusi sosialis akan terjadi lebih dulu di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur yang tinggat perkembangan kapitalismenya masih lemah. Tugas kaum komunis adalah menyerang dan menghancurkan sistem politik dan sosial yang terlemah yaitu di daerah yang secara ekonominya terbelakang.

Keberhasilan revolusi sosialis di Rusia bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir adalah seperti yang telah dikatakan Marx yaitu terciptanya tahapan masyarakat sosialis di dunia.


[1] Kader SEKBER UMY

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.