MILITER DAN DEMOKRASI DI INDONESIA

Oleh : Sandy ‘Punkeo’[1]

Militer, Militerisme dan Militerisasi

Dalam arti yang sederhana, militer dapat diartikan sebagai sebuah lembaga atau institusi yang bertugas sebagai badan pertahanan untuk menjaga daerah teritorial dan kedaulatan sebuah negara dari serangan luar. Jika dilihat kembali kesejarahan militer pra-kemerdekaan, rakyat pribumi secara konvensional membentuk milisi-milisi dan laskar-laskar untuk menghadapi kolonial Belanda dan Fasisme Jepang. Akan tetapi disisi lain, tentara profesional hasil didikan dari Belanda yaitu KNIL dan Jepang yaitu PETA juga melakukan terhadap kaum jajahan tersebut yaitu Belanda dan Jepang. Sementara militerisme adalah faham militer yang meng-ideologi-kan dan budaya militer yang terasosiasi dalam perilaku masyarakat. Faham ini tidak akan timbul jika tidak ada proses militerisasi dalam masyarakat. Militerisasi sendiri adalah sebuah proses transformasi budaya dalam kehidupan dan perilaku masyarakat. Kalau seandainya militer telah menjadi sebuah budaya (militerisme) akibat proses militerisasi maka jangan heran jika kekerasan menjadi sebuah penyelesaian dalam setiap masalah. Yang ebih berbahaya lagi jika ketika faham militer sudah memasuki tingkat sosio-politik yang terbangun dalam sistem pemerintahan yang otoriter yang kemudian sudah dapat dipastikan akan terjadi banyak tindak represifitas terhadap masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah untuk tetap melanggengkan kekuasaannya.

Militer di Indonesia

Pembentukan angkatan bersenjata di negara-negara modern ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kedaulatan negara dan bangsa suatu negara. Namun kenyataannya, terdapat beberapa perluasan peran yang melekat pada angkatan bersenjata tersebut. Perluasan ini terkait dengan ideografis dan perkembangan suatu negara. Secara umum dapat dikatakan bahwa pengaruh militer dengan multi fungsinya dalam politik pemerintahan lebih disebabkan sejarah perjuangan bangsa dan negara yang bersangkutan, terutama di negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Lebih jauh lagi hal ini dapat dilihat dari sistem politiknya berupa orientasi nilai terhadap struktur dan fungsi sistem politik, dan orientasi nilai terhadap pimpinannya.

Selain itu juga sangat dipengaruhi oleh sejarah ideografis negaranya. Militer di Indonesia lahir dan berkembang sebagai militer yang revolusioner dengan ideografis Jawa. Akan tetapi pada saat itu sebenarnya pemerintahan kelihatan enggan untuk membentuk tentara dengan fungsi kemiliteran yang penuh. Hal tersebut disebabkan karena pemerintah menitikberatkan pada jalan perdamaian dengan jalan diplomasi perundingan dan mencoba memainkan mekanisme perimbangan kekuatan negara besar, terutama negara sekutu. Tetapi dalam kenyataan, akibat dari dinamika masa pendudukan Jepang, waktu itu banyak sekali pemuda dengan semangat menggebu-gebu menginginkan wadah militer yang jelas karena mereka juga telah menerima pelatihan militer dan mengembangkan semangat nasionalisme. Dengan konsep ABRI manunggal dengan rakyat ditujukan bahwa doktrin Dwifungsi ABRI dapat setara dengan ideologi yang harus disadari oleh baik kalangan sipil maupun militer. Berdasarkan kelahiran doktrin itulah dua fungsi militer dalam sistem politik Indonesia dilaksanakan. Berdasarkan tataran empiris, konsepsi doktrin itu telah mengalami pergeseran terutama pada tingkat operaional. Dwifungsi yang tadinya menyangkut tugas pembelaan negara berubah menjadi multifungsi militer dalam orientasinya terhadap struktur dan fungsi sistem politik Indonesia.

Pelaksanaan peran militer dalam politik sangat dipengaruhi oleh konflik kepentingan dan ketegasan dalam poros elit militer, elit sipil dalam lembaga eksekutif dan kehidupan infrastruktur politik yang dimotori oleh partai politik. Hal tersebut sangat terlihat jelas di Indonesia dimana kepentingan ideologi mereka sendiri dan tentu saja kepentingan elit yang ada dibelakangnya. Dapat diambil contoh misalnya pada saat pemerintahan Orba.

Militer dan Demokrasi Indonesia

Ada fenomena lain yang terbentu dalam opini masyarakat bahwa institusi militer relative dianggap sebagai ancaman dan kendala bagi dibangunnya negara Indonesia yang demokratis. Opini ini cenderung terbentuk karena militer memiliki sifat yang represif dengan sistem komando dan hierarki yang kuat, apalgi yang dipersenjatai dengan senjata yang mematikan. Dalam negara yang demokratis, militer adalah alat negara yang profesional sesuai dengan bidangnya, namun dibatasi keterlibatannya dalam bidang politik. Politik militer adalah politik negara. Oleh karenannya militer adalah lembaga yang sangat ekslusif, berorientasi pada korps dan aristokrasi yang berlandasakan kedisiplinan, kepatuhan dan ketaatan pada hierarki dan struktur komando. Jika militer diberi hak politik praksis, maka yang akan terjadi adalah kekacauan, karena militer akan terbagi menjadi berbagai kelompok partisan sesuai kehendak nilai dan kepentingan dan ideologinya. Hal demikian dapat membahayakan bagi peraturan dan kesatuan bangsa, apalagi militer dibekali ketrampilan represif dan disandangi senjata yang mematikan, oleh karena itu dalam sebuah negara yang demokratis harus menjamin militernya tidak cenderung berkiprah dalam politik praksis.

Minimalisasi intervensi militer berarti mengurangi hal prerogatif militer dan membatasi misi profesionalnya yang ketat, dimana perhatian utamanya adalah pertahanan negara. Minimalisasi sering menciptakan situasi dilematis. Satu sisi, supremasi sipil mengharuskan pengurangan sejumlah kewenangan militer, sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan intervensi militer. Disisi lain, agar tercipta stabilitas politik, maka konflik sipil militer harus ditekan sekecil mungkin. Padahal, mengurangi hak prerogatif militer hampir selalu melahirkan konflik. Jika politisi lemah dan tidak efektif, akan mengundang intervensi militer. Sebaliknya, jika institusi politik kuat dan elite sipil bersatu maka akan membantu pengurangan hak-hak prerogatif militer.


[1] Kader SEKBER basis UMY

ISLAM DAN PEMBEBASAN MANUSIA “Teologi Pembebasan menurut Islam”

Oleh : Yunan[1]

Definisi

Pada mulanya istilah “teologi pembebasan” atau liberation theology diperkenalkan oleh para teolog Katolik di Amerika Latin pada pertengahan abad lalu. Para teolog ini mau membedakan antara metode teologi pembebasan dengan teologi tradisional. Teologi tradisional adalah teologi yang membahas tentang Tuhan semata-mata, sementara teologi pembebasan adalah cara teologi berasal dari refleksi iman di tengah realitas konkrit yang men-sejarah. Yakni teologi yang memprihatini nasib dan solider kepada mereka yang menderita ketidakadilan, kalah, miskin, ditindas dan menjadi korban sejarah; teologi yang mau mentransformasikan dunia. Atau dalam ungkapan Gustavo Gutierrez:

“This is a theology which does not stop with reflecting on the world, but rather tries to be part of the process through which the world is transformed. It is theology which is open in the protest against trampled human dignity, in the struggle against the plunder of the vast majority of humankind, in liberating love, and in the building of a new, just, and comradely society—to the gift of the Kingdom of God”.

(Ini [teologi pembebasan] adalah sebuah teologi yang tidak hanya merefleksikan dunia, melainkan juga mencoba melakukan proses transformasi terhadapnya. Ia [teologi pembebasan] adalah teologi yang berupaya untuk melawan pelecehan terhadap martabat manusia, melawan perampasan oleh mayoritas, berupaya untuk membebaskan cinta dan membangun suatu masyarakat baru yang adil dan penuh persaudaraan – untuk meraih rahmat dari Kerajaan Tuhan”).(Alfred T. Hennelly, SJ, 1995: 16)

Ada banyak macam penamaan yang secara subtansial amat dekat dengan gagasan teologi pembebasan ini, diantaranya: teologi pemerdekaan (Romo Mangun), teologi Kiri (Kiri Islam ala Hassan Hanafi), teologi kaum mustadh’afin, teologi kaum tertindas, dan lain-lainnya. Masing-masing penamaan ini hendak mengartikulasikan suatu cara beragama yang otentik, yang lahir dari situasi, sejarah dan keprihatinan atas penderitaan kaum miskin dan tertindas.

Oleh karena itu dengan pengertian tersebut jelas sekali teologi pembebasan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan “bebas semau gue” atau sikap permisif sebagaimana yang sudah disalahpahami. Anggapan seperti itu tentu saja salah alamat dan menunjukkan kebodohan saja. Untuk lebih jelas mengenai karakter dan jalan yang ditempuh teologi pembebasan, mari sejenak melihat teologi pembebasan Amerika Latin.

Sejarah Islam adalah sejarah penindasan

Islam pada awal perkembanganya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan merupakan golongan elit di masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga quraisy yang walupun cukup terpandang, tapi tidak tergolong sebagai keluarga yang kaya dan tidak memiliki status social yang tingi di mata masyarakat.

Pada saat itu islam menjadi tantangan yang luar biasa bagi para saudagar kaya Mekkah, sehingga kemudian mereka menolak ajarannya. Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah tauhid, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap islam yang akan membawa perubahan social, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politis maupun ekonomi.

Ditengah situasi yang tidak menentu, karena kuatnya dominasi para saudagar arab waktu itu, dan dibumbui dengan adanya isu-isu seperti pembunuhan terhadap bayi perempuan yang baru lahir, penindasan terhadap orang-orang miskin. Dari latar belakang keadaan kehidupan seperti itu abi Muhammad muncul sebagai pembawa kebebasan. Dan tidak ada alasan lagi bagi para pengikut Muhammad untuk tidak megikuti ajarannya sebagai pembebas orang yang tertindas.

Pada masa kenabian Muhammad islam memberikan kritik yang mendasar pada system dalam ekonomi yang dijalankan oleh kaum Quraisy mekah yang timpang dan kapitalistik. Meminjam bahasa Marx, sebenarnya Islam telah menyediakan basis hadirnya sebuah revolusi, yaitu unsur pasif dasar material. Islam menemukan senjatanya pada kaum yang tertindas, dalam istilah islam dikenal dengan kaum mustadafin sedangkan kaum tertindas menemukan inspirasinya dalam berbagai ayat Al-quran dan perkataan nabi Muhammad dalam sunnah-Nya.

Gagasan-gagasan revolusioner

Muhammad hadir ditengah masyarakat bukan sekedar mengajarkan kepatuhan kepada Tuhan atas wahyu yang dibawakannya, lebih dari itu rasul memobilisasi dan memimpin masyarakat untuk melawan ketimpangan social. Dalam iklim masyarakat yang kapitalistik-eksploitatif, Muhammad bersama para pengikutnya kaum tertindas berjuang menyuarakan persamaan, persaudaraan, dan keadilan.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa tiga belas abad sebelum Marx, Muhammad bersama islam dan para sahabatnya sejak awal telah menghendaki aspek-aspek kepemilikan bersamayang dinilai menguasai hajat hidup orang banyak, tidak dibenarkan individu-individu untuk mnguasai secara sepihak.

Beberapa tokoh lain seperti Imam Khomeini yang memimpin revolusi Iran, akibat tekanan dari rezim dictatorial Syah Pahlevi penguasa Iran yang giat melakukan westernisasi. Imam Khomeini menjadi peloppor dan penyemangat rakyat Iran yang selama betahun-tahu hidup dalam penindasan kekuasaan Syah Pahlevi. Dalam pemahaman Imam Khomeini agama islam merupakan instrument untuk menggerakkan perlawanan, bukan hanya sekedar candu.

Kritikan terhadap umat Islam sekarang

Ajaran tentang islam sekarang yang sebenarnya merupakan ajaran revolusioner, yang seharusnya berani melawan penindasan yang terjadi dan membela kaum tertindas. Justru yang terjadi sekarang umat islam banyak yang hanya mementingkan hubungan vertikal semata, yang artinya hubungan kita dengan Tuhan semata, sementara itu hubungan horizontal, yang berisi hubungan kita dengan masyarakat cenderung disepelekan, dan dipinggirkan. Apalagi realitas yang terjadi sekarang menunjukkan adanya penindasan di hampir semua sektor kehidupan.

Kritikan tersebut menjadi sangat penting dengan banyak munculnya kiai-kiai yang terkenal dengan kiai penghasil air mata. Artinya kiai hanya berfungsi menggugah dan menekankan hubungan vertikal. Tanpa adanya ajakan kepada perluasan hubungan horizontal.

Selain itu fenomena munculnya gerakan-gerakan fundamentalis Islam, seperti FPI (Front Pembela Islam) adalah bukti nyata keacuhan umat islam terhadap penindasan. Agama dijadikan alasan untuk membenarkan anarkhisme, dan penindasan. Fungsi agama sebagai alat perjuangan kaum tertindas-pun dilupakan. Sebuah pertanyaan besarpun mengemuka, apa sebenarnya yang terjadi dengan agama kita?.


[1] Kader SEKBER basis UMY

GENDER DAN SEJARAH PENINDASAN PEREMPUAN

Oleh : Nenenk Sweeat[1]

Bangkitlah kaum perempuan………!!!!!!!!!!

Sebelum kita memahami asal usul ketertindasan perempuan maka kita harus mengetahui dulu apa itu gender? Untuk memahami gender, konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat secara permanen. Kalau laki-laki bisa dikatakan punya penis, dan menghasilkan sperma, sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim. Artinya secara biologis, alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan.

Konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial amupun kultural, misalnya perempuan itu cantik, lembut, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional maupun tangguh. Ciri-ciri sifat itu sendiri dapat dipertukarkan.

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki, inilah anggapan umum yang berlaku sekarang tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin seperti “seorang istri harus melayani suami”, perempuan itu turut ke surga atau neraka bersama suaminya, dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang berwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek moyang kita, keadaannya memang sudah  begini. Tapi anggapan ini adalah anggapan yang keliru. Para ahli antropologi sudah menemukan bahwa keadaannya tidaklah demikian.

Sebagai contoh dalam masyarakat Germania, ketika mereka masih mengembara diluar perbatasan dengan romawi, berlaku juga keadaan sama. Kaum perempuan mereka memiliki hal dan kewajiban yang setara dengan kaum laki-lakinya. Peran yang mereka ambil dalam pengambilan keputusan pun setara karena setiap perempuan dewasa adalah jiwa anggota dari dewan suku.

Penemuan Pertanian

Menurut data arkeologi, kaum perempuan muncul sebagai juru selamat, mereka menggunakan ketrampilan mereka untuk mengolah biji-bijian menjadi tanaman untuk mendapatkan bahan makanan bagi seluruh komunitas. Apa yang tadinya hanya pengisi waktu luang kini menjadi sumber penghidupan utama seluruh masyarakat. Keharusan manusia untuk menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan hidupnya membuat perkembangan teknologi berlangsungdengan pesat ditengah masyarakatpertanian, jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi ini, apa yang tadinya dikerjakan bersama-sama (komunal) kini dapat dikerjakan secara sendirian (individual). Proses untuk menghasilkan sumber penghidupan kini berangsur-angsur berubah dari proses komunal menjadi proses individual. Disamping itu, pertanian, sesungguhnya menghasilkan lebih banyak daripada berburu dan mengumpul. Tiap kali panen, manusia menghasilkan jauh lebih banyak daripada yang dapat dihabiskannya.

Sekalipun berangsur-angsur, perubahan kecil ini menghasilkan lompatan besar pada prikehidupan manusia. Terlebih lagi setelah pertanian diperkenalkan, baik melalui penaklukan ataupun melalui proses inkulturasi, pada peradaban-peradaban lain diseluruh dunia. Pertanian pada awalnya membutuhkan banyak tenaga untuk membuka lahan karena tingkat teknologi yang rendah. Hanya dari proses eksistensi (perluasan lahan) pertambahan hasil dapat diperoleh. Oleh karena itu, proses reproduksi manusia menjadi salah satu proses yang penting untuk mendapatkan sebanyak mungkin tenaga pengolahan lahan pertanian. Aktivitas seksual, yang tidak pernah dianggap penting, bahkan dianggap beban, ditengah masyarakat berburu dan pengumpul, kini menjadi salah satu aktivitas yang penting. Dan akibat logis ini perempuan semakin tersingkirkan dari proses produksi ditengah masyarakat. Waktunya semakin lama semakin terserap kedalam kegiatan-kegiatan reproduktif.

Teknologi pertanian yang maju semakin pesat ini ternyata malah membuat aktivitas produksi sektor pertanian menjadi semakin tertutup bagi perempuan. Penemuan arkeologi menunjukkan bahwa ditemukannya bajak (luku) telah menggusur kaum perempuan dari lapangan ekonomi. Bajak merupakan alat pertanian yang berat, yang tidak mungkin dikendalikan oleh perempuan. Terlebih lagi bajak biasanya ditarik dengan menggunakan tenaga hewan ternak, dimana pengendalian terhadap hewan ternak memang merupakan wilayah ketrampilan kaum laki-laki. Intruksi (mendesak masuknya) peternakan kedalam pertanian telah membuat ruang-ruang bagi perempuan , yang keahliannya hanya dalam bidang pertanian, semakin tertutup. Karena perempuan semakin tidak mampu bergiat dalam lapangan produksi, maka iapun semakin tergeser ke pekerjaan-pekerjaan domestik (rumah tangga). Dan ketika perempuan telah semakin terdesak ke lapangan domestik inilah menampakkan batang hidungnya dimuka bumi.

Lahirnya Feminisme

Feminisme merupakan pergerakan yang muncul karena menyadari adanya ketertindasan perempuan. Namun akar ketertindasan tersebut diasumsikan berbeda oleh berbagai gerakan feminisme. Adapun beberapa pergerakan feminisme adalah :

  1. Feminisme Liberal

Akar ketertindasannya dikarenakan perempuan itu sendiri tidak mau mencerdaskan dirinya sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing didunia dalam rangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan laki-laki.

  1. Feminisme Radikal

Pemikiran ini timbul dari kritik terhadap feminisme liberal yang mengatakan bahwa ketertindasan itu timbul karena perempuan itu sendiri tetapi dikarenakan sistem (budaya patriarki)

  1. Feminisme Marxis

Akar ketertindasan perempuan yang dikarenakan kapitalisme. Dengan menggunakan perempuan sebagai buruh.

  1. Feminisme Sosialis

Pemikiran ini timbul dari kritik terhadap feminisme marxis, bahwa ketertindasan perempuan ini timbul dikarenakan kapitalis dan budaya patriarki.

Diatas kita dapat melihat bahwa penempatan perempuan pada posisi kedua dalam masyarakat berawal dari bergesernya peranan kaum perempuan dalam lapangan produksi. Dan pada gilirannya, tergesernya peran ini adalah akibat dari tingkatan teknologi pada masa itu yang tidak memungkinkan kaum perempuan untuk memasuki lapangan produksi.


[1] Kader SEKBER basis UMY

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.